Eco Masjid Potensi Besar Gerakan Lingkungan Berbasis Masjid

Indonesia memiliki 850 ribu masjid dan mushalla yang tersebar di seluruh pelosok tanah air,  ada 100 juta orang berkumpul di masjid setiap Jumat. Ecomasjid disambut antusias ulama, pejabat serta perwakilan  masjid yang menjadi cikal bakal gerakan lingkungan berbasis masjid di seluruh Indonesia.

IMG-20160219-WA0063
Penanaman pohon di Masjid Azzikro dalam peluncuran Ecomasjid disaksikan oleh Prof Din Syamsuddin dan KH Arifin Ilham

BOGOR. (19 FEBRUARI 2016). Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Siaga Bumi telah memprakarsai program Ecomasjid yang diluncurkan di Masjid dan pondok pesantren Azzikra Sentul, Bogor yang dibina oleh KH. M. Arifin Ilham. Empat program utama Ecomasjid ini antara lain mencakup: Penghijauan, konservasi air, sanitasi dan pengolahan sampah.

Tujuan program ini adalah agar masjid selalu menghimbau kepada umat agar senantiasa menjaga kelestarian hutan dan lingkungan sekitar melalui dakwah, baik lisan, tulisan maupun tindakan yang nyata. Kegiatan ini, selain dihadiri para ulama, juga pejabat pemerintah dan anggotan DMI dari seluruh Jabodetabek dan Banten, juga dihadiri oleh tokoh lingkungan hidup dan aktifis lingkungan dan tokoh lintas agama yang tergabung dalam Gerakan Siaga Bumi.

IMG-20160219-WA0116
Peserta Peluncuran berfoto bersama Prof Din Syamsuddin dan KH Arifin Ilham

Dr. Ir. M. Firman, M.For.Sc, Direktur Konservasi Tanah & Air, Kementrian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK) mengatakan bahwa peluncuran ecoMasjid ini tentu akan mendukung upaya penghijauan yang dilakukan pemerintah “Jika di Indonesia tercatat 850 ribu dan bila 100 pohon ditanam ditiap masjid maka akan tertanam 85 juta pohon yang ekuivalen seluas 2,12 juta ha” tuturnya.Selain itu masjid juga berpotensi memberikan model bagi kesehatan lingkungan dan sanitasi yang baik. dr. Imran Agus Nurali, Sp.KO, Direktur Penyehatan Lingkungan, Kementrian Kesehatan mengatakan tentang potensi masjid yang penting sebagai bagian upaya penyadaran tentang kesehatan khususnya yang berkaitan dengan air, sanitasi serta perilaku bersih. “Akibat sanitasi yang buruk, diperkirakan Negara mengalmi kerugian mencapai Rp 56 triliun/tahun” ujarnya. Kerugian tersebut termasuk hilangnya pendapatan karena tidak masuk kerja (hilangnya waktu produktif), menurunnya kunjungan wisatawan, biaya pengobatan dan pengolahan air baku. Biaya sebesar itu dapat dialihkan untuk kegiatan produktif dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin.

Masjid selain sebagai tempat beribadah ritual bagi umat Islam, juga merupakan sentra kegiatan masyarakat. Pusat Pengajian Islam (PPI) Universitas Nasional yang merupakan salah satu elemen pendukung Gerakan Siaga Bumi menyambut gembira peluncuran ini. “Masjdi Azzikra memang dapat dijadikan model yang baik, karena masjid ini selain mempunyai jamaah tetap yang berjumlah puluhan ribu, juga dapat menularkan contoh buat masjid-masjid yang lain,” papar Dr. Fachruddin Mangunjaya, Wakil Ketua PPI yang turut menghadiri sekaligus menjadi moderator dalam Lokakarya Ecomasjid tersebut. PPI juga telah berkerjasama dengan jamaah Azzikra dalam program Green Hajj beberapa waktu yang lalu. (Lihat:Launching travel haji ramah lingkungan )

Adapun Prof Din Syamsuddin, Ketua Dewan Pengarah Siaga Bumi, mengatakan bahwa penanggulangan terhadap masalah lingkungan hidup dan perubahan iklim haruslah dengan pendekatan moral. “Pada titik inilah agama harus tampil berperan melalui kolaborasi lintas agama, dan itu perlu dimulai dari Rumah Ibadah masing-masing, “ujarnya. Menurutnya keberhasilan menciptakan Rumah Ibadah yang ramah lingkungan (asri fisik dan halaman, bersih dari sampah dan kotoran, dan bersih air serta lancar aliran) adalah penjelmaan dari hati bersih dan pikiran jernih umat beragama dan merupakan titik-tolak upaya menciptakan negeri yang asri, nyaman, aman sentosa: baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghafur.”

Lihat juga: