GELIAT GERAKAN DA’I KONSERVASI DI LAMPUNG

PPI-UNAS, Lampung. “Mari bersama menikmati alam. Makan dan minumlah, namun jangan berlebih-lebihan. Mari budayakan konservasi, agar alam tetap lestari, agar anak cucu bisa menikmati.”

Demikian sebait slogan yang selalu dibacakan para da’i  bersama jama’ahnya saat mengakhiri kegiatan pengajian di desa-desa. Tidak hanya  di pengajian  yang diikuti kalangan orang dewasa,  tetapi juga pengajian untuk anak-anak seperti  TPA.

“Saya selalu mengingatkan pada da’i untuk terus membacakan slogan ini setiap selesai pengajian. Tujuannya agar masyarakat selalu ingat bahwa konservasi itu penting dan menjadi bagian dari ajaran Islam,” ujar Ustad Alif Makluf Almaduri, penggerak dakwah konservasi di kabupaten”Beguai Jejama”.

lampung2

Gerakan da’i konservasi di Lampung Barat bermula dari pelatihan yang diselenggarakan oleh WWF Indonesia bekerjasama dengan PPI-UNAS (Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional) dan LPLHSDA-MUI (Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Majelis Ulama Indonesia) di tahun 2016.

Tujuannya adalah untuk melibatkan para da’i terlibat dalam upaya pelestarian dan perlindungan alam dan mengatasi berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di Lampung, seperti pembalakan kayu, perburuan dan perdagangan haram satwa liar yang dilindungi, ataupun kebakaran hutan.

Lihat juga: Memanfaatkan Teknologi untuk Dakwah

“Dari pelatihan itu muncul kesadaran bahwa kegiatan konservasi itu bagi kehidupan manusia, karena mengajarkan kita untuk bersikap bijak dalam mengelola alam seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT, dan hal itu penting karena akan dirasakan manfaatnya oleh semua manusia, termasuk anak cucu kita nanti,”ujar Alif.

Ustad Alif Makluf Almaduri (no.3 dari kiri) bersama para pengurus da'i konservasi
Ustad Alif Makluf Almaduri (no.3 dari kiri) bersama para pengurus da’i konservasi

Dari pelatihan itu, dia pun kemudian mencari sejumlah referensi bagaimana menyiapkan bahan-bahan untuk ceramah mengenai konservasi. Sayangnya, kebanyakan buku-buku yang dibacanya masih sulit untuk dicerna oleh kalangan da’i dan masyarakat di desa, dan belum menyentuh persoalan yang ada di lapangan.

LIHAT JUGA: Foto-foto kegiatan Dai Lampung

Alif pun mencoba “meramu” berbagai bacaanya. Dan berkait dukungan dan masukan dari berbagai pihak, dia kemudian menerbitkan buku dengan judul “Konservasi, Murni Ajaran Islam” pada Maret 2020. Buku ini kemudian dicetak dan disebarkan kepada para da’i.

dai lampung

Bersama dengan rekan-rekan “alumni pelatihan dai konservasi” Alif kemudian membuat gerakan dai konservasi dengan membentuk kepengurusan dai konservasi beserta wilayah kegiatan dakwahnya. Saat ini di Kabupaten Lampung Barat telah terbentuk pengurus da’i konservasi di desa Sukamarga, Pakunegara, Penengahan, Labuhan Mandi, Bumi Hantatai dan Teba Liokh.

“Kami juga sering mengundang aparat desa untuk hadir dalam pengajian-pengajian yang membahas konservasi di desa, dan membuat baliho-baliho kecil agar masyarakat mudah untuk mengingatnya.” jelas Alif.

BERITA TERKAIT: