MEMAHAMI SITUASI KELOMPOK ORANG DENGAN DISABILITAS DAN LANSIA DI MASA COVID-19

Jakarta-PPI Unas. Mencuci tangan dengan menggunakan sabun, memakai masker, dan menjaga jarak merupakan perilaku higienis yang diperkenalkan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Namun bagaimanakah perilaku ini dapat dilakukan oleh kelompok dengan disabilitas dan lansia, sementara mereka mengalami keterbatasan atau kesulitan dalam melakukan kegiatan tersebut, sementara itu mereka juga mengalami kerentanan dan beresiko untuk terinfeksi virus Covid-19?

Untuk memahami situasi dan pengalaman yang dialami orang dengan disabilitas dan lansia semasa pandemi Covid-19, Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional (PPI-UNAS) bekerja sama dengan International Centre for Diarrhoeal Disease Research, Bangladesh (icddr,b) melakukan studi evaluasi program Hygiene Behavior Change Coalition (HBCC) pada bulan Juni-Juli 2022 di dua wilayah di Indonesia; Jakarta Utara dan Bandung Barat.

HBCC adalah program yang diperkenalkan oleh Pemerintah Inggris dan Unilever pada Maret 2020 di 37 negara di dunia, termasuk di Indonesia. Program ini bertujuan untuk mencegah penyebaran Covid-19 dengan memperkenalkan perilaku higienis dengan mencuci tangan dengan sabun secara benar. Salah satu organisasi pelaksana HBCC di Indonesia adalah Save the Children Indonesia yang bekerja di 40 sekolah di Jakarta Utara dan Bandung Barat.

Ketua tim studi PPI Unas Fachruddin Mangunjaya menjelaskan, studi ini memfokuskan pada kelompok orang dengan diabilitas dan lansia karena proporsinya yang cukup signifikan di masyarakat. Data WHO menunjukkan hampir 15% dari populasi dunia masuk dalam kategori disabilitas dan lansia. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiiring dengan bertambahnya usia populasi dan meningkatnya penyakit kronis lainnya yang berkembang dengan pesat.

Namun meski jumlahnya cukup besar, kelompok disabilitas dan lansia sering kali mengalami pengucilan di masyarakat termasuk di masa pandemi Covid-19. Padahal mereka juga mengalami kerentanan dan beresiko untuk terinfeksi Covid-19.

“Kelompok ini juga membutuhkan informasi dan layanan kesehatan yang memadai terkait penanganan Covid-19 yang disesuaikan dengan kondisi yang mereka alami, seperti kesulitan untuk melihat, berjalan atau kesulitan psikogis lainnya.” jelas Fachruddin.

Ditambahkannya, studi ini bertujuan untuk memahami  situasi atau kesulitan yang dialami kelompok disabilitas dalam melakukan perilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan dengan sabun, memakai masker dan menjaga jarak, serta melihat efektifitas dan inklusifitas program HBCC yang selama ini dilaksanakan.

“Melalui studi ini diharapkan akan diperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kelompok disabilitas dan lansia, sehingga di masa depan dalam menangani pandemi dapat dikembangkan program yang lebih inklusif dan menjangkau semua kelompok masyarakat,” jelas Fachruddin.

Untuk memilah responden dalam kategori orang dengan disabilitas dan non-disabilitas digunakan alat Washington Group. Alat ini terdiri dari sejumlah pertanyan terkait dengan kesulitan yang dihadapi responden dalam melakukan kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan kesehatannya baik secara fisik maupun mental, seperti seperti kesulitan untuk melihat, mendengar, berjalan atau menaiki tangga, berkomunikasi, berkonsentrasi atau mengingat, merawat diri sendiri, rasa khawatir dan gugup dan kecemasan atau depresi.

“Penggunaan Washington Group memberikan identifikasi yang obyektif terkait dengan jenis kesulitan yang dialami responden, sehingga bukan berdasarkan asumsi atau stigma yang selama ini terjadi di masyarakat. Jika responden menjawab jawab banyak mengalami kesulitan atau tidak bisa sama sekali baru, atau sering kali mengalami perasaan cemas dan tertekan,  baru dimasukan dalam kategori disabilitas” ujar Yesi Maryam, koordinator lapangan studi HBCC-PPI Unas.

Lihat juga: Exploring Washington Group Questions

Tim peneliti kuantitatif sedang mengadakan wawancara pada responden di daerah Bandung Barat.© Foto: PPI -UNAS

Untuk mendapatkan data yang lebih menyeluruh, proses pengumpulan data dilakukan melalui metode kualitatif dengan melakukan wawancara dengan tokoh kunci yang terdiri dari tim manajemen organisasi pelaksana, perwakilan pemerintah, organisasi kelompok disabilitas, serta wawancara mendalam dengan para guru, pendamping, tokoh masyarakat dan siswa disabilitas. Selain itu, juga dilakukan photovoice ranking untuk mendapatkan perspektif mengenai kesulitan dan kebahagiaan yang dihadapi.

Sementara itu metode kuantitatif dengan melakukan survei terhadap 160 responden dalam kategori disabilitas dan 160 responden non-disabilitas sebagai pembanding terkait dengan pengetahuan, sikap dan perilaku mereka terhadap Covid-19 dan perilaku higienis yang dilakukan semasa pandemi.

BERITA TERKAIT:

Bagikan Artikel
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Recent Posts