MEMBANGUN MASA DEPAN PPI-UNAS SEBAGAI THE CENTER OF EXCELLENT

Jakarta-PPI UNAS. Wakil Rektor bidang kerjasama dan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, Prof. Ernawati Sinaga, M.S. Apt mengapresiasi upaya Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional atau PPI UNAS untuk membangun kapasitas sebagai the Center of Excellent, khususnya dalam kajian Islam dan lingkungan yang kini banyak dibahas di kalangan akademis, baik di tingkat nasional maupun global.

Hal ini disampaikan Ernawati saat membuka workshop PPI UNAS bersama pimpinan  Universitas Nasional yang berlangsung secara hibrid di ruang pertemuan Cyber Library Kampus UNAS dan zoom, Senin, 18 Juli 2022.

“Saya menghargai upaya PPI UNAS untuk terus berkiprah dan meningkatkan diri sebagai the Center of Excellent melalui kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat untuk menjawab berbagai tantangan yang kini dihadapi. Lewar kajian dan aktivitas yang dilakukan oleh PPI UNAS telah memberikan kontribusi yang nyata dalam meningkatkan peran universitas sebagai pusat ilmu pengetahuan, khususnya yang terkait dengan kajian ke-Islaman,” ujar Ernawati.

PPI UNAS berdiri pada 20 Februari 1985 oleh Rektor Universitas Nasional Sutan Takdir Alisjahbana dan Menteri Agama H. Munawir Sadzali mengemban dua misi utama; untuk memperkuat dan memajukan ilmu pengetahuan, menyokong keimanan, dan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa, dan untuk memajukan ilmu pengetahuan dengan mempelajari khazanah Islam yang dapat menjadi modalitas bagi kemajuan umat manusia khususnya bangsa Indonesia yang berkontribusi dunia.

Disampaikan oleh Ketua PPI-UNAS, Dr. Fachruddin Mangunjaya sebagai upaya untuk mewujudkan misi tersebut, sejak tahun 2016 PPI UNAS memfokuskan pada kajian Islam dan lingkungan, khususnya yang terkait dengan konservasi dan perubahan iklim melalui kegiatan penelitian, seminar, pelatihan serta kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Tema Islam dan lingkungan menjadi sangat penting karena tantangan dan permasalahan terkait lingkungan kini semakin besar dampaknya yang dirasakan oleh manusia di seluruh dunia. Berbagai kajian PPI UNAS telah ditampilkan melalui penerbitan buku dan jurnal ilmuah, website dan sosial media yang dapat diperoleh secara gratis dan menjadi rujukan baik bagi kalangan akademis maupun masyarakat umum lainnya. Salah satu topik yang banyak disitasi adalah penelitian mengenai perempuan dan sanitasi.” ujar Fachruddin.

Pada tahun 2008 PPI-UNAS mulai mengembangkan pendekatan agama sebagai salah satu metode untuk mendorong perubahan perilaku di masyarakat, diantaranya dengan kegiatan pelatihan bagi para dai dan advokasi ke sejumlah lembaga agama dan perguruan tinggi.

“Pada tahun 2014 MUI mengeluarkan  Fatwa MUI No.4 tentang perlindungan satwa langka yang dilindungi  dan Fatwa No. 30 Tahun 2016 tentang hukum kebakaran hutan dan lahan.  Keluarnya Fatwa MUI ini merupakan hal yang pertama di dunia dan menjadi perhatian banyak pihak untuk mengkaji bagaimana agama memiliki peran strategis untuk mendorong upaya konservasi dan perlindungan alam dan lingkungan.” ujar Fachruddin.

Workshop ini juga menghadirkan Dr. Dicky Sofjan dari Universitas Gadjah Mada yang memaparkan tentang pengalaman Indonesian Consortium for Regious Studies (ICRS) dalam membangun kapasitas sebagai Center of Excellent sehingga bisa mencapai sebagai World Class University yang menduduki  peringkat ke-1 di Indonesia dan ke-47 dalam kajian agama atau religious studies

Dicky menjelaskan untuk membangun universitas berkelas internasional ada tiga pilar utama yang perlu menjadi perhatian. Yang pertama adalah pengembangan fakultas, hal ini terkait dengan sumber daya manusia, seperti tersedianya dosen yang berkualitas, kegiatan penelitian, dan pembukaan fakultas internasional dan para ahlinya. Kedua adalah pengembangan penelitian dan kegiatan akademis yang mencakup tentang  keterlibatan dalam kegiatan penelitian, kualitas hasil penelitian, sitasi serta program insentif yang mendorong penelitian. Yang ketiga adalah mengenai pengembangan branding dan positioning.

Dicky juga menambahkan, ketiga komponen tersebut universitas juga perlu memperhatikan mengenai arah dan tata kelola perguruan tinggi dimana didalamnya ada harapan masyarakat terhadap universitas, kemampuan melakukan penelitian, kemampuan pengelolaan keuangan serta pengembangan lembaga riset.

“PPI Unas selama ini telah berkiprah di isu yang kini menjadi perhatian dunia, Islam dan ekologi. Ini bisa menjadi modal yang sangat kuat. Namun penting juga bagi PPI Unas untuk merumuskan hal yang mendasar yaitu sebagai pusat kajian akademis dengan sumber daya yang memadai dalam kegiatan penelitian, membangun kolaborasi dengan para pihak terutama universitas dan lembaga akademis lainnya, serta  branding dan posisinya untuk menjadi the center of execellent.” Ujar Dicky.

Narasumber lainnya adalah drg Imam Rulyawan yang membahas mengenai lembaga keuangan dan dan pengelolaan dana wakaf masyarakat. Rulyawan mengatakan sebagai lembaga perguruan tinggi, PPI UNAS mempunyai potensi untuk membangun dirinya sebagai lembaga nazir untuk mengelola dana wakaf yang dikumpulkan dari mahasiswa dan dosen.

“Berbeda dengan sedekah, wakaf mempunyai potensi dalam pengembangan ekonomi produktif yang berkelanjutan dimana penerima manfaatnya tidak hanya terbatas di kalangan mereka yang beragama Islam. Pengalaman ini telah banyak dicontohkan baik di masa lalu, seperti sumur air Ustman bin Affan yang banyak diminati oleh kalangan masyarakat Yahudi, atau pengalaman di Universitas Airlangga dalam membangun program wakaf bagi para mahasiswa.” kata Rulyawan.

Bagikan Artikel
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Recent Posts