Menelusuri Akar Sejarah Islam yang Menyebar di Nusantara

JAKARTA. Pusat Pengajian Islam– Mungkin banyak yang bertanya, mengapa banyak sekali keturan Yaman (Hadralmawut) yang tersebar di Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Mengapa para habaib itu, kemudian juga banyak berada di tampuk-tampuk kekuasaan kesultanan Islam? Mengapa kemudian Islam menjadi agama dominan dan berkelanjutan berabad abad, menggantikan  keyakinan Hindu dan Budha dan peradabannya yang telah sangat lama di Nusantrara? Mengapa bukan bangsa lain atau bangsa Eropa yang menjadikan beberapa kerajaan pra kemerdekaan menjadi koloni-koloni mereka, membawa misi agama Kristiani, dapat mengungguli keyakinan masyarakat Nusantra?

Pusat Pengajian Islam, memfasilitasi diskusi tentang Studi Sejarah Islam di Nusantara, Jumat (9/3). Diskusi yang bertajuk “Rekam Jejak Islam Menusantara: Keluarga Keturunan Hadramaut, Pagaruyung, Palembang Di Maluku Utara dan Banda Neira,” ini di paparkan oleh Drs. Saleh U. Al Haddar, MA, penulis manuskrip buku sejarah setebal 600 halaman yang akan dipublikasikannya. Menurutnya, dia akan membedah buku tersebut dengan metode yang agak berbeda dari metodologi yang dilakukan oleh ‘orientalist’ tentang sejarah Islam.DSC_5220

Menurut  Al Haddar (70 tahun), penulisan buku sejarah ini menggunakan pendekatan fenomenologi, metode yang diprakarsai awal oleh Abu al-Rayhan al-Biruni, sejarahwan Muslim asal Afganistan yang hidup abad awal abad ke 10 Masehi. Selain itu, beliau juga akan membedah sejarah dengan mengikuti Al Qur’an. Bahwasananya, agama-agama samawi, sejatinya adalah agama tauhid dari satu Tuhan, sehingga mempelajari sejarah manusia akan dimulai dari Nabi Adam AS. Suatu upaya yang sangat langka dilakukan.

Tadinya Al Haddar, hanya ingin menulis sejarah, karena tertarik dengan sejarah keturunan nenek moyangnya yang ada di Ternate. Penelitian dan wawancara dilakukannya hingga merambah ke pedalama Papua, dengan memakai perahu menemui nara sumber sejarah. Semula hanya menelurusi nasab, kemudian diusulkan menuliskan menjadi naskah yang lebih lengkap tentang Islam yang masuk ke Nusantara.

“Penulisan sejarah, merupakan langkah penting untuk melihat masa depan dengan cermin sejarah. Sejarah adalah seperti sebuah pohon yang berakar pada dari tanah, sehingga kita bisa mengenali buanya sekarang. Demikian pula, kita bisa mengelola buah-buah itu untuk ditanam di masa depan,” ungkap Dr Fachruddin Mangunjaya, yang juga menjadi pembahas dalam acara diskusi jum’at tersebut.

Diskusi dipandu oleh Dr Firdaus Syam, pakar sosiologi politik Sekolah Pasca Sarjana Universitas Nasional.

Berita Terkait: