Menyusun Kembali Strategi Pendekatan Agama untuk Konservasi

Jakarta [UNAS] – Upaya menghubungkan peran penting agama dalam konservasi lingkungan  merupakan hal yang telah digagas puluhan tahun lalu. Salah satunya oleh Pangeran Philip, suami dari Ratu Elisabeth II dari Inggris dan Presiden WWF serta organisasi-organisasi konservasi lingkungan lainnya.  Kemudian, pada tahun 1995 didirikanlah Alliance of Religions and Conservation (ARC), yang menjadi tuan rumah kegiatan ini. Kini, para penggagas lingkungan hidup ini melihat pentingnya peran agama dalam mendukung konservasi lingkungan hidup. Menurut mereka jika para pemimpin agama di dunia ikut berkolaborasi dalam konservasi lingkungan akan menimbulkan dampak yang luar biasa.

Aktifis agama dan konservasi berdiskusi di Lambeth Palace 17-18 November 2015
Aktifis agama dan konservasi berdiskusi di Lambeth Palace 17-18 November 2015

Untuk itu, The Nature Conservancy (TNC) mengadakan pertemuan untuk membahas konservasi lingkungan di Gedung Archbishops  of Canterbury, Lambeth Palace,  pada 17-19 November 2015. Wakil Pusat Pengkajian Islam (PPI) Universitas Nasional, Dr. Fachruddin Mangunjaya menjadi salah satu tamu kehormatan yang diundang untuk membahas tentang peran agama dalam konservasi lingkungan. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Pangeran Philip, Pendiri ARC dan juga pernah menjadi President WWF.

Lihat Pidato Pembukaan Pangeran Philip disini:>>>

“Acara ini merupakan forum berbagi pengalaman dimana organisasi dan donor dapat mempelajari penting serta efektifnya melibatkan pemimpin agama dalam gerakan konservasi,” ujar Fachruddin yang juga merupakan dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional.

Upaya pertemuan ini digagas oleh The Nature Conservancy (TNC) yang merupakan organisasi konservasi non-profit terbesar di dunia dan didanai sebagian oleh Science for Nature and People (SNAP) kemitraan.

Orang-orang penting antar agama, organisasi sekuler dan pemerintahan ini disatukan dalam pertemuan selama tiga hari ini. Dr. Fachruddin merupakan satu-satunya delegasi dari Indonesia yang akan memberikan paparan dan masukan tentang tema yang diusung. Delegasi lain berasal dari berbagai negara di dunia, antara lain Amerika Serikat, Inggris, China dan India. Mereka berbagi pengalaman, keberhasilan, kegagalan, harapan, rencana dan impian untuk membantu konservasi lingkungan dunia.