MUI Galakkan Kampanye Haji Ramah Lingkungan

LPLH dan SDA MUI, Hayyu Prabowo, memandang Indonesia sudah cukup maju dalam menerapkan upaya pemeliharaan lingkungan di kalangan agamawan. “Jika dibandingkan dengan negara Muslim lainnya, Indonesia dipandang sudah cukup maju dengan kampanye eko-pesantren, eko-masjid hingga green hajj,” kata Hayyu, dalam rilisnya yang diterima MySharing, Senin (30/3).

Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup (LPLH) dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (SDA MUI) menggelar kampanye bertajuk Haji Ramah Lingkungan di kantor MUI Pusat Jakarta.

Menurutnya, sejauh ini sudah ada beberapa biro perjalanan haji dan umrah yang sepakat untuk turut mendukung kampanye pemeliharaan lingkungan kepada para jamaahnya saat menunaikan ibadah haji dan umrah. “Peran mereka penting disamping memandu para jamaah haji terkait dengan ibadah. Mereka juga memandu agar para jamaah menjaga lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan menghemat penggunaan air,” tegasnya.

mui-galakkan-haji-ramah-lingkungan

Hayyu menuturkan, kesadaran para pelaku jasa ibadah haji dan umrah ini sesuai dengan fatwa MUI bahwa setiap Muslim wajib memelihara kebersihan lingkungan, termasuk menjaga agar tidak isyraf, membuang sampah sembarangan. Dengan begitu, semua pihak termasuk para pelaku travel haji dan ulama agar membina para jamaah haji maupun umrah untuk menjaga lingkungan.

Semantara itu, menurut Ketua Pusat Pengkajian Islam Universitas Nasional, Dr. Fachruddin Mangunjaya, sampah menumpuk terlalu banyak ketika sesudah haji, limbah padat juga masih terus menjadi sorotan. Ketika sampah terlalu banyak, maka energi juga akan memakan terlalu banyak. “Pada tahun 2013, jamaah haji menyisakan 53 ribu ton sampah,” katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, sampah perlu diperhatikan, karena ada yang bisa hancur, ada yang harus memakan waktu hingga ratusan tahun. Misalnya, kantong plastik harus memakan 90 tahun, nilon 40 tahun, sandal dan botol plastik hingga 450 tahun. “ Ini sama saja tujuh generasi,”ujar Fachruddin.

Sumber