PERAN STRATEGIS ULAMA DALAM PELESTARIAN BADAK JAWA

PPI-UNAS. Kalangan ulama dan dai memiliki peran yang strategis dalam mendukung upaya pelestarian badak jawa di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Selain karena disegani masyarakat, ulama juga memiliki amanat untuk menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam yang membawa rahmat bagi alam dan lingkungannya.

Hal ini disampaikan oleh KH Abdul Wahid Sahari, Ketua fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banten dalam diskusi publik yang diselenggarakan secara virtual oleh Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional (PPI-UNAS) dan Yayasan Badak Indonesia (YABI) dalam rangka memperingati hari badak sedunia, Kamis (24/09/2020).

Abdul Wahid mengatakan, kalangan ulama perlu terlibat lebih aktif dalam pembahasan dan kegiatan terkait isu lingkungan, baik  melalui kegiatan pengajian dan pendidikan, agar kesadaran umat mengenai pentingnya menjaga  dan keseimbangan alam dan lingkungan dapat ditingkatkan.

“Isu lingkungan menjadi penting karena manusia adalah wakil Allah di muka bumi. Manusia mempunyai kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Namun pemanfaatkan tersebut harus memperhatikan prinsip-prinsip yang ditetapkan agama, seperti sesuai kebutuhan, tidak berlebih-lebihan ataupun menganggu kehidupan manusia atau makluk hidup lainnya, membawa kebaikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian, dan tentunya untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan.”jelas Wahid.

Perlindungan satwa langka seperti badak jawa, merupakan bagian dari tujuan tersebut. Itu sebabnya, katanya, MUI kini juga membangun lembaga agar pemuliaan lingkungan hidup dan sumber daya alam, agar prinsip-prinsip Islam tentang keseimbangan alam semakin luas disyiarkan.

MUI juga mengeluarkan Fatwa No.4 Tahun 2014 tentang perlindungan satwa langka untuk keseimbangan ekosistem. “Fatwa ini kini mulai banyak disosialisasikan para dai di berbagai majelis dan pendidikan lembaga Islam.” jelasnya lagi.

Widodo S. Ramono, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI) menambahkan, peran para pihak termasuk kalangan ulama dalam upaya pelestarian badak jawa memang sangat dibutuhkan. Mengingat saat ini, badak jawa adalah salah satu jenis satwa yang terancam punah di dunia.

“Menjaga kelestarian badak, berarti menjaga keseimbangan ekosistem di alam yang sangat berguna bagi kehidupan manusia itu sendiri. Apalagi hewan ini merupakan warisan yang sangat penting bagi ilmu pengetahuan. Badak adalah sisa hewan purba Hydrachius Primitive Rhinoceros yang hidup 65 juta tahun yang lalu,” jelas Widodo.

Indonesia sendiri, kata Widodo, cukup beruntung karena memiliki dua dari lima jenis badak yang ada di dunia. Namun kini kehidupan satwa ini  mulai terancam punah akibat akibat perburuan dan semakin menyempi tnya kawasan hutan akibat aktivitas manusia dan ancaman alam lainnya.

Diskusi ini juga menghadirkan Ketua PPI-UNAS Dr. Fachruddin Mangunjaya, Kapala Bidang Pencematan dan Kerusakan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pandeglang Kemih Kurniadi, serta Kepala SPTN Wilayah II Pulau Handeulum Taman Nasional Ujung Kulon, Ujang Acep.

Disampaikan oleh Kemih Kurniadi, pemerintah Kabupaten Pandeglang juga telah bekerja sama dengan berbagai pihak seperti WWF Indonesia dan Taman Nasional Ujung Kulon dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat seperti  pertanian organian, pemanfaatan hasil hutan yang berkelanjutan, dan ekowisata untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar kawasan.

Screenshot 2020-09-24 114216

Sementara Ujang Acep menjelaskan, saat ini Taman Nasional Ujung Kulon tengah menyiapkan habitat kedua bagi populasi badak jawa di Ujung Kulon. Dia juga mengharapkan para ulama dan dai dapat mendukung upaya ini dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan perburuan illegal di kawasan taman nasional.

Hadir sebagai peserta dalam diskusi para ulama dan dai yang tergabung dalam Forum Komunikasi Dai Konservasi Sumur Cimanggu, para pemerhati lingkungan dan mahasiswa, dan wakil organisasi Islam di provinsi Banten.

Berita Terkait: