Pesantren Terapkan Harim Zone di Bantaran Sungai

Partisipasi publik untuk pelestarian alam dan lingkungan perlu terus ditingkatkan. Salah satunya adalah dengan menularkan kearifan tradisional dan cara-cara nyata dalam praktik pelestarian alam.

pesantren-terapkan-harim-zone-di-bantaran-sungai

Salah satu upaya memberikan kontribusi tersebut adalah dengan memberikan pendidikan dan contoh praktis tentang kearifan melestarikan alam melalui pendekatan agama Islam. “Islam merupakan agama yang mempunyai ajaran dan tradisi yang khas dalam mengajarkan perawatan lingkungan. Salah satu bentuknya adalah bentuk perawatan sungai dan fasilitas publik dengan cara penetapan zona larangan (harim zone) di bantaran kali atau sungai dan perawatan pelestarian dengan sistem hima (perlindungan alam asli),” kata Fachruddin Mangunjaya, MSi yang menulis buku Khazanah Alam: Menggali Tradisi Islam untuk Konservasi, bersama Dr Ahmad Sudirman Abbas. Harim zone mewajibkan setengah dari lebar sungai kekiri dan kekanan, terbebas dari bangunan dan membiarkan vegetasi dan tumbuhan bebas sebagai penyangga sungai.

Tradisi ini dihidupkan kembali sebagai sumbangan pada pemeliharaan lingkungan yang dianjurkan oleh ajaran Islam.Penerapan harim zone ini merupakan yang pertama kalinya di Indonesia dan diterapkan sebagai sebuah pilot project di Pondok Pesantren Modern Daarul’ Uluum, Sukabumi. “Ini adalah sebuah program percontohan dan merupakan arena latih para santri untuk mengenal dekat tentang perawatan alam dan lingkungan,” ujar Ustadz Drs H Ahmad Yani, Ssos, Pimpinan Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido, Bogor.

Di PM Daarul ‘Uluum ini pada Kamis (7/5) diadakan pula pertemuan para ustadz dari beberapa pesantren sehari penuh mendiskusikan praktik konservasi Islami: sistim hima dan harim yang pernah diterapkan pada zaman Nabi Muhammad saw. Nara sumber yang hadir antara lain Iwan Wijayanto dari Conservation International Indonesia dan Dr Ahmad Sudirman Abbas dari Fakultas Syariah Universita Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Fachruddin Mangunjaya, Conservation and Religion Initiative.

Menurut Iwan Wijayanto, Conservation International Indonesia mendorong inisiatif masyarakat untuk berkontribusi dalam pelestarian alam dari mulai kalangan masyarakat awam, pelajar (santri) hingga para pengambil keputusan. Oleh karena itu inisiatif berkontribusi untuk menjaga keseimbangan alam apalagi sumber mata air sebagai bagian dari jasa ekosistem, sangat penting dipertahankan. “Kami memberikan dorongan penuh agar semua kalangan perduli dalam memelihara sumber air bersih dan perawatan sungai dan ekosistem terutama di Kawasan Gunung Gede Pangrangu, Halimun dan Salak,” tutur Iwan Wijayanto.

Inisitatif Agama dan Konservasi ini didukung oleh Rufford Small Grant bekerjasama dengan Yayasan Owa Jawa dan didukung oleh Conservation International Indonesia.

Related Link:

Rufford Small Grant
Dialog Kontribusi Pesantren untuk Konservasi

Menghidupkan Kembali Perawatan Bantaran Sungai

Muslim School Leads Environmental Movement in Java