PPI dan HIMMASTA UNAS Gagas Dialog Kebangsaan

ppi-himmasta-unas

Hidup ini harus senantiasa dihiasi dengan ilmu, dan ilmu tersebut perlu dilengkapi dengan agama agar tidak tersesat nantinya.

Jakarta (UNAS) – Berkurban, bagi umat islam merupakan salah satu hal yang pernah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS. Dari hal tersebut, terkandung banyak pembelajaran kehidupan yang dapat dijadikan teladan. Contohnya saja, Himpunan Mahasiswa Masjid Sutan Takdir Alisjahbana Universitas Nasional yang mengambil makna berkurban dalam konteks bela Negara yang diangkat melalui dialog kebangsaan.

Mengusung tema “Berkurban dalam Konteks Bela Negara”, HIMMASTA bekerjasama dengan Pusat Pengkajian Islam (PPI) Universitas Nasional menggelar dialog kebangsaan dengan mengundang Ustadz. Muhammad Riza, dan Dosen Unas, Angga Sulaiman, S.IP.,M.AP sebagai pembicara. “Saya sangat bersyukur, karena hari ini kita diberi kesempatan untuk terus menimba dan menambah ilmu. Perlu kita ketahui bersama bahwa hidup ini harus senantiasa dihiasi dengan ilmu, dan ilmu tersebut perlu dilengkapi dengan agama agar tidak tersesat nantinya,” ungkap perwakilan deputi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional, Dr. Firdaus Syam saat membuka acara yang digelar di Aula Masjid STA, Kamis (1/11).

Mengawali dialognya, Ustad. Muhammad Riza memaparkan bahwa berkurban sebagai salah satu syariah yang terkandung dalam Al-Qur’an membawa dua pembelajaran kehidupan dalam konteks bela negara. Pertama, berkurban memaknai bahwa setiap manusia harus mampu menekan dan menahan nafsu harta dan duniawinya untuk kepentingan Allah dan Rasul-Nya. “Hal ini mengajarkan kita agar tidak mengedepankan kepentingan diri sendiri saja,” imbuh Ust. Riza. Hal kedua, yakni berkurban mengajarkan kita untuk berkomitmen dan konsisten dalam menjadikan Al – Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai pedoman dan tuntunan dalam kehidupan kita.

Berbeda dengan Ust. Riza, dosen Universitas Nasional, Angga Sulaiman, S.IP.,M.AP lebih menekankan makna berkurban dalam menjawab kompleksitas persoalan bangsa. Angga mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia sedang terjangkit penyakit disorientasi. Dimana negara tidak lagi menjalankan tujuan – tujuan utama bangsa. Contohnya adalah saat ini Indonesia memang telah merdeka, namun tanpa disadari sebenarnya sedang terjajah. “Secara politik, negara kita memang merdeka, tapi secara ekonomi, kita sedang terjajah. Lihat bagaimana produk – produk asing telah menguasai pasar Indonesia dan kita justru bangga menggunakannya,” imbuh Angga.

Namun demikian, Annga menambahkan, solusi yang dapat diambil dari makna berkurban adalah negeri ini perlu melahirkan seorang pemimpin yang kuat, dan berkomitmen baik spiritual, emosional, dan intelektual. “Indonesia masih mampu menciptakan pemimpin yang kuat, dimulai dari mahasiswanya. Jika mahasiswanya mampu dan mau secara konsisten menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” tambah Angga.

Sumber