SAFARI RAMADHAN 2019 DI RIMBANG BALING

IMG_1114

Forum Komunikasi Da’i Konservasi Rimbang Baling melaksanakan rangkaian Safari Ramadhan di enam desa di sekitar bentang alam Rimbang Baling pada 18-27 Mei 2019. Safari dimulai dari Kampar, Kuantan Singingi, hingga Sumatera Barat. Antusiasme masyarakat cukup tinggi mengikuti kegiatan tersebut yang diisi dengan tausiyah mengenai perlindungan alam oleh perwakilan dai Forkodas. Bahkan di beberapa desa meminta agar kegiatan kembali dilaksanakan di desa mereka untuk tahun depan. Safari Ramandhan ke desa-desa ini telah menjadi agenda rutin para dai yang tergabung dalam Forkodas (Forum Komunikasi Da’i Konservasi ) Rimbang Baling sejak 2017.

Perjalanan pertama dimulai pada 18 Mei  di Kecamatan Kampar Kiri Hulu menuju 4 desa yakni Desa Lubuk Bigau (Mesjid Al-Ikhlas), Desa Pangkalan Kapas (Mesjid Istiqomah), Desa Pangkalan Serai (Mesjid Al-Barqah), dan Desa Batu Sanggan (Mesjid Nurul Huda). Kemudian dilanjutkan ke Desa Kasang (Mesjid Al-Ikhlas) di Kuantan Singingi, dan 1 desa di Provinsi Sumatera Barat yaitu di Nagari Ampalu (Masjid Raya Ampalu).

Desa-desa ini berada di kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling dan penyangganya. Sebagian masih jauh dari jangkauan perkembangan zaman, seperti  Pangkalan Serai yang mesti ditempuh 4 jam berperahu. Perjalanan yang panjang dan memiliki medan yang cukup membahayakan tidak melemahkan semangat para da’i untuk menyampaikan dakwah kepada masyarakat akan pentingnya menjaga Rimbang Baling dan keanekaragaman hayatinya.

Empat jam perjalanan sungai menggunakan perahu atau masyarakat lokal menyebutnya “piyau” dan panas teriknya matahari tidak menyurutkan semangat para da’i untuk mencapai lokasi.  Sembari menahan haus karena sedang berpuasa dan menahan badan agar tidak jatuh ke dalam sungai, hati kami (saya dan para da’i) tetap merasa nyaman karena suguhan pemandangan sekitar. Pohon-pohon dan hutan rimbun di kiri dan kanan sungai, hal itu dapat menghilangkan rasa capek dan ketakutan kami selama di perjalanan.

Untungnya perjuangan yang tidak mudah terbayar dengan semangat para jama’ah yang mereka kunjungi, terlihat dari antusias masyarakat. Di Desa Batu Sanggan misalnya, desa kedua yang dikunjungi setelah Pangkalan Serai, ketika mendengarkan ceramah dari Uztad Aldian mengundang sorak tawa. Cara penyampaian yang penuh humor juga sangat menghibur menjadi daya Tarik. “Jan bonti ceramah nyo lai, torui jo lah uztad sampai pagi” (jangan berhenti ceramahnya, teruskan saja sampai pagi) celetukan seorang ibuk-ibuk yang membuat jama’ah lain ikut bersorak dan tertawa.

Kegiatan ini rutin dilakukan setiap bulan Ramadhan dengan sasaran kunjungan masjid yang berbeda-beda setiap tahunnya. Selain jalur sungai Safari Ramadhan yang juga dilakukan di Desa Lubuk Bigau dan Desa Pangkalan Kapas tak kalah serunya. Tim melakukan perjalanan darat yang juga penuh resiko karena harus melewati medan yang terjal, jalan tanah yang masih licin dan berlumpur karena sisa hujan. Dua desa yang hanya bisa dijangkau dengan menggunakan sepeda motor atau mobil double gardan harus membuat para da’i naik turun mobil untuk membantu mobil yang terjebak lumpur.

Namun dai tetap merasa senang karena mereka baru pertama kali dan baru tahu jika ada daerah sejauh itu di pedalaman, masyarakat juga sangat menerima tim patroli. Mayarakat juga mengatakan “Kalau tak muat pakai tangan, kami tampung pakai niru” pribahasa kampong ini sebagai ungkapan senang masyarakat karena kegiatan yang kami lakukan.

Di dalam ceramahnya ustadz mengatakan “kita sebenarnya khalifah di muka bumi, namun saat sekarang kita malah sebagai penghancur”, “coba kita terapkan budaya nenek moyang dulu yang bisa hidup berdampingan dengan alam”.

Forum Komunikasi Da’i Konservasi (For Ko Das) Antau Subayang, Antau Bio, Antau Singingi dibentuk pada tahun 2016. Forum ini terbentuk dari sebuah inisiasi para dai untuk mempererat  komunikasi di antara para dai di wilayah Rimbang Baling khususnya Kecamatan Kampar Kiri dan Kampar Kiri Hulu Hulu, Kabupaten Kampar dan Kecamatan Singingi dan Singingi Hilir, Kuantan Singingi.

Sesuai dengan visi misi dari tim FORKODAS, safari Ramadhan yang dilakukan selain memperkuat silaturahmi Da’i konservasi juga sebagai perjalanan untuk berdialog tentang permasalahan lingkungan yang semakin kompleks setiap tahunnya. Sungai Subayang misalnya selain menjadi pusat kehidupan utama bagi masyarakat Rimbang Baling, kini juga menjadi sarana atau akses bagi pelaku kejahatan ilegal logging untuk mengalirkan kayu-kayu hutan dan merusak habitat satwa-satwa di dalamnya.

Lihat juga: Dai Forkodas Terbentuk

Ada yang berbeda tahun ini, Safari Ramadhan juga dilakukan oleh Forum Dai ke Provinsi Sumatera Barat yakni Nagari Ampalu. Secara ekosistem, bentang alam Rimbang Baling mencakup provinsi Riau dan Sumatera Barat. Perwakilan dari dai wilyah ini telah mendapatkan pelatihan mengenai fatwa MUI No 4/ 2014 di Pekanbaru pada Februari lalu yang dilaksanakan oleh Pusat Pengajian Islam-Universitas Nasional, WWF, Yapeka dan didukung oleh BBKSDA Riau dan MUI Riau.

Kegiatan di Sumatera Barat dipusatkan di Masjid Raya Ampalu pada tanggal 25 Mei 2019. Perjalanan yang cukup panjang tidak terasa karena disambut hangat oleh masyarakat ketika tim dai sampai di Kenagarian Ampalu, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupatn Lima Puluh Kota. Tanggapan mayarakat dengan ceramah yang disampaikan beragam, ada yang baru tahu bahwa perlindungan satwa juga tertera dalam hadist- hadist dan ayat-ayat Al-quran. Namun mereka sangat setuju bahwa satwa memang harus dilindungi, seperti harimau yang mereka sebut “Datuak” merupakan satwa yang sangat mereka hormati. Menurut legenda minang “Datuak Balang” merupakan harimau penjaga kampug atau desa, bila harimau punah maka tidak ada lagi penjaga kampung tersebut.

Forum ini juga sebagai wadah untuk berbagi informasi mengenai implementasi Fatwa MUI No. 4 Tahun 2014 tentang pelestarian satwa langka untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Fatwa tersebut secara tegas Majelis Ulama Indonesia menyampaikan bahwa membunuh satwa langka adalah haram.  Dalam mensosialisasikan fatwa ini, kendala para dai adalah tidak semua masyarakat dapat menerima dengan baik apa yang sudah disampaikan, meski itu merupakan kewajiban bagi umat muslim. Namun para dai konservasi masih memiliki harapan yang tinggi bahwa masyarakat akan dapat lebih baik dalam menjaga alam dan satwa sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.

BERITA TERKAIT: