Sumbang 260 Pohon, Wujudkan Konsep Ekopesantren

20150410_093431 - CopyJakarta [UNAS] – Fakultas Biologi Universitas Nasional memberikan penambahan inventarisasi sebanyak 260 pohon yang terdiri dari 25 jenis tanaman obat dan langka, Jum,at (10/4). Tanaman ini diperoleh dari hasil kerja sama dengan Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor – LIPI.

Beberapa jenis tanaman yang diberikan yaitu sebagai berikut: Annona muricata, Canarium indicum, Cerbera mangas, Cinnamomum iners, Corynocarpus australasicus, Cynometra ramiflora, Diospyros blancoi, Garcinia dulcis, Hopea adorata, Hura crepitans, Intsia bijuga, Licania tomentosa, Litsea garciae, Maniltoa scheffleri, Palaquium sp., Pongamia pinnata, Pouteria champechiana, Reutealys trisperma, Sandoricum koetjape, Swietenia macrophylla (Mahoni), Syzygium polyanthum, Terminalia bellirica, Vatica rassak, Parkia timoriana (Kedawung), dan Mangifera caesia.

Rencanya pohon-pohon ini akan ditanam di beberapa tempat Pondok Pesantren Daarul Uluum yang memiliki luas lahan 8 Ha. Dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional, yang juga adalah Ketua Pusat Pengajian Islam (PPI) Unas, Dr. Fachruddin Mangunjaya, mengungkapkan kegiatan ini merupakan bagian dari program ekopesantren yang sedang digalakan oleh kedua belah pihak, ”kegiatan ini sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat yang merupakan kelanjutan dari pilot project ekopesantren,” ucap Fachruddin.

Kegiatan yang sudah berlangsung sejak 5 tahun silam ini, didahului dengan melakukan penanaman beragam pohon produktif dan langka pada lahan seluas 1,8 ha di pesisiran sungai Cilengsir yang dikenal dengan nama Taman Kehati atau Harim Zone. Selain itu, dilakukan pelatihan pada pelajaran IPA dan inventarisasi biota yang dibantu para mahasiswanya.

Selain kegiatan penanaman di atas, Fakultas Biologi Universitas Nasional turut serta membantu pengelolaan sampah di pondok pesantren tersebut. Kegiatan ini dimulai dengan pembuatan tempat pembakaran sampah dan dilanjutkan dengan pemberian mesin pencacah yang rencananya akan digunakan untuk pembuatan kompos. Kegiatan pengelolaan sampah ini menggunakan dana hibah dari Dikti melalui program IPTEK Bagi Masyarakat (IbM).

Ustadz Yunani selaku pengurus bidang sarana prasarana Pondok Pesantren Daarul Uluum, bersuka cita dengan kegiatan ini. Kini peseantren yang dihuni oleh kurang lebih 2000 santriwan dan santriwati dari berbagai daerah di Indonesia.

”Pembuatan tempat pembakaran sampah sangat membantu pondok pesantren dalam pengelolaan sampah. Biasanya kegiatan tersebut harus mengeluarkan biaya 2,4 juta rupiah untuk sampai ke TPS Sukabumi, sekarang hanya mengeluarkan biaya 1 juta rupiah. Kedepannya, kami berharap pondok pesantren tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk pengelolaan sampah, tetapi dapat meraup untung dengan adanya kegiatan daur ulang seperti pembuatan kompos”, ungkap Yunani.

Fachruddin menambahkan,”Harapannya dari kegiatan yang berlanjut ini, Pondok Pesantren Daarul ‘Uluum dapat menjadi model ekopesantren yang dapat dicontoh oleh pesantren-pesantren lainnya.”