Brisbane, Australia — Dalam presentasi Indonesia Country Status Report pada ASEAMYS 2026, delegasi Indonesia Adinda Arifiah mengangkat topik “Digital Da’wah as Youth Wellbeing Infrastructure”, dengan menekankan bahwa dakwah digital kini berfungsi sebagai ekosistem dukungan harian anak muda—bukan sekadar konten keagamaan.
Adinda memaparkan urgensi isu kesehatan mental anak muda Indonesia yang semakin dipengaruhi dinamika platform. Ia menyinggung narasi publik “Strawberry Generation” serta data sinyal kesehatan publik: laporan Universitas Airlangga yang menyebut lebih dari 31 juta penduduk Indonesia usia 15+ mengalami gangguan kesehatan mental, dan temuan survei I-NAMHS 2022 yang menunjukkan sekitar 1 dari 3 remaja mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir serta 1 dari 20 memenuhi kriteria gangguan mental.

Menurutnya, konteks ini beririsan dengan “digital anxiety drivers” seperti tekanan notifikasi always-on, FOMO dan perbandingan sosial, paparan konflik daring, hingga moral policing di ruang komentar—yang dapat membuat dakwah digital menjadi “penyangga stres” atau justru memperburuk tekanan psikologis jika tidak dikelola dengan tepat.
Salah satu sorotan penting adalah “interpretive overload”. Adinda mengutip gambaran riset pada audiens muda (18–30 tahun) bahwa 72% mengakses dakwah digital lebih dari 3 kali per minggu dan 85% menyukai format pendek-visual; namun 45% melaporkan kebingungan akibat banyaknya ragam interpretasi keagamaan di ruang digital. Kondisi ini, katanya, berisiko memicu kecemasan, distrust, polarisasi, hingga virality-first framing bila tanpa kurasi dan panduan.
Untuk merespons tantangan tersebut, Adinda mendorong pendekatan “wellbeing-by-design” melalui rancangan dakwah digital yang memadukan engagement dan guidance, sekaligus “safety + referral”, misalnya bahasa anti-stigma, batasan privasi, moderasi anti-perundungan/anti-moral policing, serta protokol rujukan dan krisis.
Pada level regional, ia mengusulkan Wellbeing-by-Design Charter, pembentukan Wellbeing Content Lab (kolaborasi ulama–profesional kesehatan mental–pemuda), penguatan jalur rujukan yang faith-sensitive di tiap negara, serta penerbitan laporan tahunan “Youth Wellbeing & Digital Da’wah” sebagai agenda keberlanjutan lintas negara.

Kehadiran delegasi Indonesia pada ASEAMYS 2026 memperkuat partisipasi pemuda dan akademisi Indonesia dalam jejaring kolaborasi pemuda Muslim kawasan, khususnya pada isu-isu strategis seperti ketahanan sosial, kepemimpinan, dan kerja sama lintas negara.


