Islam dan Perubahan Iklim

ablution

Islam dan perubahan iklim sesungguhnya sangat terkait. Mengajarkan keseimbangan, dalam beribadah saja seorang Muslim harus peduli lingkungan hidup untuk mencapai kesempurnaan ibadahnya.

Tahukah Anda, bahwa negara Maladewa yang akan tenggelam duluan jika permukaan air laut naik satu meter saja? Dan, Maladewa adalah negara Muslim di Samudera Hindia. Maladewa, berarea total 298 km² dengan seluruhnya tanah dan pasir di atas rangkaian Atol dengan garis pantai 644 km, dataran tertinggi di Maladewa hanya 2,4 m dari permukaan laut dan dataran terendahnya 0 m. Kekhawatiran sudah disampaikn Maladewa kepada dunia. Pada 2009, Presiden Maladewa saat itu, Mohammad Nasheed mengungkapkan ancaman terhadap negaranya ini. Pada 2010, Nasheed menyatakan komitmen moral Maladewa untuk mencapai kondisi tanpa karbon (zero carbon) sebagai cara menghindari penaikkan permukaan laut. Tahun itu, juga Maladewa menginisiasi pembentukan The Climate Vulnerable Forum (CVF), sebuah forum negara-negara yang merasa paling terancam dengan perubahan iklim.

Menurut US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), kenaikan permukaan air laut sekitar 3 mm/ tahun di seluruh dunia. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), kenaikan itu berkisar antara 18 hingga 59 cm sepanjang abad 21. Tapi IPCC menyatakan angka ini belum mempertimbangkan akibat dari siklus karbon dan pencairan es di kutub-kutub dan pegunungan-pegunungan es tertinggi Bumi. Angka yang sudah memerkirakan seluruh faktor dikeluarkan oleh US National Research Council pada 2010, berkisar antara 56 hingga and 200 cm sepanjang abad 21.

Apa hubungannya Islam dan perubahan iklim? Apa urusannya dengan umat Muslim? Menurut Dr. Fachruddin Mangunjaya dari Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional, Jakarta, justeru sangat berurusan. Mengomposisi sekitar 23% penduduk dunia atau antara 1,4 hingga 1,57 miliar, sulit dipungkiri peran umat Muslim dalam memicu perubahan iklim. “75% pemeluknya tinggal di Asia Timur dan negara berkembang yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Mayoritas pemeluk Islam berada di Asia Timur: India, Pakistan, Bangladesh, Malaysia dan hampir 220 juta berada di Indonesia”, kata Dr. Fachruddin Mangunjawa dalam Seminar Lingkungan Hidup, Departemen Syiar dan Seni Universitas Islam Jakarta (24/5).

Negara-negara Muslim penyumbang karbon dalam kuantitas yang bahkan lebih besar daripa Amerika Serikat (AS). Mengutip data dari US Energy Information, penduduk Qatar menyumbang 61,19 emisi perkapita CO2 dari pembakaran fosil. Kuwait sebesar 45,9, Uni Emirat Arab 35,5, dan AS hanya 19,76.

Dr. Facruddin menyontohkan sebuah foto yang diambilnya di Kuwait pada 2009, mobil mewah dan besar dengan kapasitas mesin 3500 cc adalah hal biasa di negara tersebut. Dengan harga bensin kurang lebih Rp750 per liter saat itu di sana, mobil yang boros bensin tidak menjadi masalah. Sementara di Indonesia, penyumbangnya lain lagi, “Yang kita sumbangkan adalah kebakaran hutan, ini juga melepas karbon”, kata Dr. Fachruddin.

Jangan Boros Air saat Berwudhu

Kepala Lembaga Pemuliaaan Lingkungan Hidup Majelis Ulama Indonesia (LPLH-MUI), Dr. Hayu Prabowo yang juga menjadi pembicara seminar tersebut menambahkan peran lain dari umat Muslim memicu perubahan iklim. Selama masa haji, sampah dan kesehatan lingkungan hidup menjadi masalah di Mekkah. Sebuah studi menyatakan, tiap jamaah haji pada 1426 H menghasilkan 1.55 kg sampah per harinya. Sampah terbanyak adalah sampah organik, plastik, dan kertas. Dapat dibayangkan bagaimana ini terjadi, pada musim haji 2010, jamaah membuang 100 juta lebih botol plastik. Sebagai material yang tidak dapat diperbarui, sampah plastik menyumbang karbon dalam jumlah yang lebih banyak daripada sampah bermateri lainnya. Padahal, “Kesempurnaan ibadah kepada Allah SWT sangat bergantung pada dukungan lingkungan hidup dan ekosistem yang berkesinambungan,” kata Dr. Hayu Prabowo.

Tidak hanya haji, menurut Dr. Hayu, kesempurnaan ibadah Muslim kepada Allah Swt menuntuk dukungan lingkungan yang baik. Menunaikan ibadah haji merupakan rukun Islam kelima, setelah rukun-rukun yang lain: sahadat, sholat, puasa dan zakat. “Semua kegiatan ibadah ritual kita tersebut memerlukan dukungan lingkungan hidup yang baik. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan yang baik merupakan sarana bagi kesempurnaan ibadah kepada Allah SWT”, kata Ketua Program Studi Pascasarjana Ekonomi Syariah, Universitas Azzahra ini.

Dari sudut pandang ibadah, apa jadinya jika air berkurang di Bumi ini atau lingkungan pada umumnya rusak? “Manusia tidak bisa menggunakan air menghilangkan hadats besar & kecil serta besuci, kita diminta untuk memberikan daging kurban yang sehat, memiliki harta yang sehat dan halal untuk bershadaqah dan berzakat, terlebih dahulu harus bersuci dan memilih lingkungan yang kondusif untuk melaksanakan ibadah seperti sholat lima waktu di tempat yang memenuhi syarat kesucian. Dan seluruh permukaan bumi menjadi tempat bersujud. Bagaimana apabila tempat bersujud kita ini rusak dan tercemar? Kita tidak bisa beribadah”, kata Dr. Hayu.

Beribadah harus memerhatikan lingkungan itulah salah satu poin penting dalam topik Islam dan Perubahan Iklim. Dr. Hayu menyebut satu Hadits Nabi mengenai pemuliaan lingkungan hidup, khususnya penggunaan air untuk berwudhu atau bermandi. “Membasuh, atau mandi dengan satu sha’ hingga lima mud, dan berwudhu dengan satu mud.” (HR. Bukhari). Untuk diketahui, satu mud setara dengan 2/3 liter dan satu sha adalah empat mud.

Ketika umat Muslim menyembelih hewan kurban, apakah pernah memerhatikan efek lingkungannya? Limbah hewan kurban berupa kotoran dan isi perut kurban menimbulkan dampak mengandung banyak bakteri berbahaya, seperti E.Coli, yang bisa menyebabkan penyakit diare. “Apabila limbah ini dibuang sembarangan ke sungai atau aliran air, maka bisa mencemari sumur-sumur di sekitarnya. Selain itu, menimbulkan pemandangan dan bau tidak sedap serta mengundang kehadiran lalat penyebar berbagai penyakit menular seperti disentri dan kolera”, kata Dr Hayu.

Oleh karena itu, sudah semestinya umat Muslim lebih peduli terhadap lingkungannya untuk dapat ikut menyelamatkan Bumi. Dr. Hayu mengaitkannya dengan sebuah ayat, QS ar-Ra’d: 11: “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum mereka (kaum tersebut) mengubah diri mereka sendiri.”

Dan, perubahan itu dimulai dari individu. Mengharmosikan hubungan Islam dan perubahan iklim dapat dimulai dengan kembali kepada ajaran Islam tentang akhlak, yang terbagi dalam tiga macam akhlak: (1) akhlak terhadap Allah swt, yaitu menyucikan dan memuji Allah Swt, bertawakal kepada Allah Swt, dan berbaik sangka kepada Allah Swt; (2) akhlak terhadap sesama manusia yang meliputi akhlak terhadap orang tua, kaum kerabat dan tetangga, dan sebagainya; dan (3) akhlak terhadap lingkungan yaitu meliputi penyikapan dan perilaku Muslim terhadap lingkungan meliputi binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda tak hidup lainnya.

Dunia Islam dan Perubahan Iklim

Menjaga keseimbangan lantas menjadi kata kunci dalam topik Islam dan perubahan iklim. Menurut Dr. Fachruddin, Allah Swt menciptakan bumi dalam keadaan seimbang, terhampar luas untuk keperluan manusia dan makhluk yang lain. Dan ukuran (kadarnya) telah ditetapkan atas dasar fitrah masing masing, tidak ada perubahan atas fitrah ciptaan Allah, merujuk kepada Surat Ar Ruum ayat 30 dalam Alquran.

Oleh karena itu, para ulama Muslim dunia sebenarnya sudah menyadari kaitan erat Islam dan Perubahan Iklim. Muslim harus lebih peduli lingkungan hidup. Diisahkan Dr. Fachruddin, beberapa inisiatif telah dibuat oleh para ulama Muslim. Di Istanbul, Turki, Juli 2009, dideklarasikan “Muslim Seven Year Action Plan for Climate Change (Rencana Aksi Muslim Tujuh Tahun untuk Perubahan Iklim) atau M7YAP. “Lebih dari 70 ulama dan ahli lingkungan, dan aktivis lingkungan dari dunia Muslim hadir untuk memberikan dukungan pada M7YAP. Mereka yang hadir diantaranya Dr Yusuf Al Qaradawi, the President of the International Union of Muslim Scholars”, kata Dr. Fachruddin.

dr-fachrudin

Ulama dan ahli lainnya, Dr Ali Jumma, Grand Mufti Egypt, Dr Ekrama Sabri (Palestina), Dr Salman Alouda, (Saudi Arabia), dan Said Ali Mohamad Hussein Fadlallah (Lebanese Shiah scholar), para pakar dari ISESCO (Islamic Educational, Scientific and Cultural Organisation), Muslim Society America (MSA), Representatives of Ministries of Environment and Awqaf of Islamic countries from Kuwait dan perwakilan dari Bahrain, Maroko, Indonesia, Senegal dan Turkey, AS, Inggris, dan Swiss.

Inisiatif M7YAP ini menghasilkan komitmen dan rekomendasi antara lain: membuat badan wakaf untuk mengimplementasikan rencana tersebut, pembuatan label untuk produk tertentu. Ini merupakan labeling secara Islami (bisa: halalan thayyiban) dengan otoritas atau standar yang ketat, dan merencanakan ‘Green Hajj’ atau haji yang ramah lingkungan melalui Kementerian Haji Saudi Arabia. Green Hajj ini bertujuan antara lain membuat aturan supaya haji bebas dari botol plastik dan memperkenalkan inisiatif kegiatan ramah lingkungan dalam lima hingga 10 yang akan datang untuk menuju pada kegiatan haji (ibadah) yang ramah lingkungan.

Merekomendasikan juga, kontruksi pilot ‘green mosque’ masjid ramah lingkungan untuk mencontohkan praktis dalam pemanas, penerangan ruangan, desain arsitektur dan sebagainya. Dan terakhir, mengembangkan dua atau tiga kota Muslim sebagai ‘green cities’ di mana ini akan menjadi model untuk menghijaukan kota Muslim yang lain sebagai pengejawantahan dari konsep Islam dan perubahan iklim.

Sumber