Riset Mengungkap: Ada Kesenjangan Informasi Kesehatan bagi Disabilitas dan Lansia

Publikasi berjudul Assessing Reach and Perceptions of Hygiene Behaviour Change Interventions for People with Disabilities and Older Adults: Multi-country Matched Cross-sectional Study hasil kolaborasi antara PPI UNAS, International Centre for Diarrhoeal Disease Research, Bangladesh (icddr,b), Pemerintah Inggris, London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM), serta PENDA yang tergabung dalam konsorsium global Hygiene Behaviour Change Coalition (HBCC).

JAKARTA (UNAS) – Komitmen Universitas Nasional (UNAS) dalam menghasilkan riset yang berdampak bagi masyarakat kembali mendapat pengakuan internasional. Melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga kesehatan dan akademisi dunia,

Pusat Pengajian Islam (PPI) UNAS berkontribusi dalam publikasi ilmiah bereputasi internasional kategori Q1 yang mengangkat isu kesenjangan akses informasi kesehatan bagi penyandang disabilitas dan lanjut usia (lansia).

Penelitian tersebut dilaksanakan pada Juni hingga Juli 2022 di Jakarta Utara dan Kabupaten Bandung Barat. Studi ini merupakan bagian dari penelitian lintas negara yang juga dilakukan di Bangladesh, Kenya, dan Zambia. Fokus penelitian adalah mengevaluasi efektivitas program perubahan perilaku higienis serta distribusi produk kebersihan selama pandemi Covid-19, khususnya bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan lansia.

Dekan Fakultas Biologi dan Pertanian (FBP) UNAS sekaligus Kepala PPI UNAS, Dr. Fachruddin M. Mangunjaya, M.Si., menjelaskan bahwa penelitian tersebut bertujuan memberikan dasar ilmiah bagi penyusunan kebijakan kesehatan publik yang lebih inklusif.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok disabilitas masih menghadapi hambatan yang signifikan dalam memperoleh informasi kesehatan. Padahal, pada masa pandemi, akses terhadap informasi yang benar menjadi faktor penting dalam melindungi diri dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki peluang 64 persen lebih rendah untuk menerima pesan perubahan perilaku kesehatan dibandingkan kelompok non-disabilitas. Di Indonesia, kesenjangan tersebut mencapai 59 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa kampanye kesehatan publik yang dilakukan secara luas belum sepenuhnya menjangkau kelompok rentan secara efektif.

Meskipun demikian, penelitian juga menemukan bahwa distribusi bantuan berupa masker, sabun, dan hand sanitizer relatif merata di berbagai kelompok masyarakat. Tantangan terbesar justru terletak pada penyampaian informasi dan edukasi kesehatan yang mudah diakses oleh penyandang disabilitas.

Sebagai tindak lanjut, tim peneliti menyusun policy brief atau kertas kebijakan yang disampaikan kepada berbagai pemangku kepentingan nasional. Forum diseminasi hasil penelitian tersebut dihadiri oleh perwakilan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, lembaga layanan disabilitas, organisasi masyarakat sipil, serta mitra internasional.


Menurut Fachruddin, capaian publikasi pada jurnal bereputasi Q1 ini membuktikan bahwa penelitian yang dilakukan dosen dan peneliti UNAS mampu memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) di tingkat nasional maupun global.

“Dosen tidak hanya dituntut melakukan penelitian, tetapi juga membangun jejaring internasional, mengembangkan ilmu pengetahuan melalui riset yang terarah, menyusun peta jalan penelitian, serta mendiseminasikan hasilnya dalam bentuk rekomendasi kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya. Ia menambahkan bahwa Fakultas Biologi dan Pertanian UNAS terus mendorong para dosen untuk menghasilkan publikasi pada jurnal ilmiah bereputasi internasional melalui kolaborasi dengan berbagai institusi global. Dalam implementasinya, PPI UNAS berperan sebagai laboratorium sosial yang menjadi ruang praktik bagi dosen dan mahasiswa untuk mengembangkan riset, pengabdian kepada masyarakat, serta kerja sama internasional.

Selain PPI UNAS, sejumlah pusat studi di lingkungan UNAS, seperti Pusat Studi Primata dan Pusat Studi Biodiversitas, juga aktif mengembangkan penelitian yang berorientasi pada solusi atas berbagai persoalan lingkungan, kesehatan, dan pembangunan berkelanjutan.

Melalui capaian tersebut, UNAS kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi internasional, tetapi juga menghadirkan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat serta mendukung lahirnya kebijakan publik yang inklusif, berkeadilan, dan berbasis sains. (SAF)

Artikel Terkait:

Foto-foto riset:

Peneliti HBCC UNAS melakukan survei di beberapa titik di Jakarta dan Bandung Barat.

Bagikan Artikel

Recent Posts

MEDIA

Daya Tarik Ekopesantren dan Media Global

JAKARTA (25/5)—Dalam dua dekade terakhir, setidaknya telah puluhan kali media-media asing yang kemudian meliput faith-based environmental movement, atau Gerakan lingkungan berbasis keimanan. Seperti gerakan ekopesantren,

Read More »