Ekonomi Islam Semestinya Mengusung Keseimbangan Sosial, Ekonomi dan Ekologi

IMG_0044 - Copy

JAKARTA-PPI. Ada hubungan sangat erat antara pertumbuhan ekonomi dengan eksistensi sumber daya alam kita yang pada dasarnya menjadi sumber ketergantunya kita bersama dalam pertumbuhan ekonomi bangsa. Tetapi resiko bergantung pada sumber daya alam ini sangat riskan dan dapat memicu krisis lingkungan yang berkepanjangan. Terlebih sekarang kita menghadapi tantangan perubahan iklim. Demikian diskusi Ekonomi Islam dan Krisis Lingkungan Rabu (27/5) di Kampus Universitas Nasional.

“Indonesia selama hampir 30 tahun pemerintahan Orde Baru, awalnya dipuji sebagai calon Macan Asia (NEC) karena berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 % per tahun sebelum akhirnya collapse pada akhir tahun 1998. Pertumbuhan ekonomi yang mengesankan itu ditopang oleh dana minyak bumi yang booming sejak 1970-an. Topangan kedua kedua adalah dari dana sumber daya hutan. Kedua penopang itu kini telah “habis”.

Demikian catatan Prof Umar Basalim, Guru Besar Ekonomi dari Universitas Nasional. Menurutnya, sangat disayangkan, apabila Pemerintahan Orde Reformasi melanjutkan “tradisi” itu dengan mengeduk batu bara dan barang tambang lain serta terus menngurangi areal hutan untuk kelapa sawit. Sekali lagi demi mengejar pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. “Hasilnya: yang dikejar tidak kunjung tercapai, lingkungan menjadi rusak.” paparnya dalam diskusi internasinal bertema Economics and Environmental Crisis in the Islamic Perspective yang diadakan oleh Pusat Pengajian Islam (PPI) Universitas Nasional. Untuk itu beliau menyarankan Indonesia kembali pada amanah UUD 45 yang menginkan pembangan berkelanjutan dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan.

Seminar tersebut menghadirkan beberapa tokoh pemikiran Islam, dan filsafat seperti, Prof. Dr. Seyyed Mofid Hoesini, dari Universitas Al Mustafa, Teheran, Dr. Mohsen Zanganeh, dari Sadra International Institute, Jakarta, serta Praktisi dan Pemikir Lingkungan Muslim, Dr. Fazlun Khalid dari Islamic Foundation for Ecology and Environmental Science, Birmingham, UK. Dan pelaku praktik ekonomi Syariah, Dr. Irfan Syauqi Beik, Ketua Program Studi Sharia Economy, Bogor Agricultural University.

Dalam pandangannya para panelis bersepakat, umat Islam tidak meninggalkan landasan pemikiran Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Namun sangat penting meletakkan landasan filsafat dibalik praktis kita dalam menuju perekonomian yang berkeadilan dan mengusung kehendak ilahiah. “Islam tidak melepaskan rasio, tetapi juga menghendaki agar Al Quran dan prinsip-prinsipnya tidak ditinggalkan,” tambah Dr. Mohsen Zanganeh. Adapun Dr. Irfan Syauqi Beik, mengemukakan prinsip praktis ekonomi yaitu menuju falah oriented, yang menurutnya ingin mencapai tiga tujuan utama, keuntungan sosial, ekonomi dan ekologis dan juga upaya untuk memperelorh barakah dari sang pencipta, serta menuju keseimbangan amaliah dunia dan akhirat.

Seminar ini merupakan seminar pendahuluan yang diadakan menyambut konferensi tentang Pemikiran and Sains Manusia dalam Islam (IC-THuSI) yang diadakan pada bulan November 2015 di Jakarta. PPI dalam hal ini mengusung tema seputar Ekonomi dan Isu Krisis Lingkungan. “Seminar ini akan sangat produktif bukan hanya pada tataran dialog, juga memumuskan dalam bentuk pemikiran dan tulisan yang produktif untuk mengembangkan gagasan ini dalam bentuk implementasi yang konkrit, terutama dalam upaya kita menjawab tantangan krisis lingkungan,” kata Dr. Fachruddin Mangunjaya, Wakil Ketua Pusat Pengajian Islam Universitas Nasional, yang membuka seminar tersebut.

Penyelenggaraan seminar ini terlaksana atas kerjasama antara Pusat Pengajian Islam UNAS dengan International Institute of Islamic Thought (IIIT) yang berbasis di UK, Sadra International Institute, Jakarta dan IFEES UK. ***

LIHAT JUGA