Forum Komunikasi Dai Konservasi Di Rimbang Baling

Riau–Pusat Pengajian Islam. UNAS menyambut baik terbentuknya Forum Komunikasi Dai Konservasi di Rimbang Baling. Kegiatan tersebut diprakarsai oleh WWF Program Sumatera Tengah dan Majelis Ulama Riau ( MUI) mengadakan acara silaturahmi Da’i Konservasi di Stasiun Lapangan Subayang, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kampar –Riau.

Kegiatan yang dihadiri oleh 17 Dai dari sekitar kawasan Rimbang Baling sebagai wadah berbagi informasi mengenai implementasi Fatwa MUI No. 4 Tahun 2014 tentang pelestarian satwa langka untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Sebelum acara ini, PPI UNAS bersama MUI Pusat, telah memfasilitasi sosialisasi pada bulan April 2016.

Lihat:  Mengajak Dai Bergerak-Melakukan Da’wah Konservasi Lingkungan

Sebagai tingak langjutnya, WWF menggandeng Sekretaris MUI Provinsi Riau, Abdurrahman acara ini berlangsung pada 21-22 November 2016. Dalam sambutannya, Ustad Abdurrahman menjelaskan tujuan dari kegiatan silaturahmi ini. Demikian dilaporkan oleh WWF dalam situs webnya.

silahturahmi_dengan_da_i_konservasi_rimbang_baling
Peserta silahturahim da i konservasi di Rimbang Baling 21-21 November 2016 di Kamp Subayang. Foto: ©  WWF

‘’Acara ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi da’i yang ada di Sungai Subayang, Sungai Bio, dan Singingi Hilir. Fokus pertemuannya yaitu untuk penyegaran kembali mengenai materi Fatwa MUI tentng satwa langka yang telah dilakukan sebelumnya” jelasnya.

Fatwa MUI No. 4 Tahun 2014 ini sendiri sudah mendapatkan apresiasi aktivis lingkungan di dunia. ‘’Fatwa ini tidak hanya menjadi perhatian kita umat Islam, namun juga sudah menjadi perhatian dunia. Maka dari itu, kita memilki tanggung jawab untuk melestarikan alam Indonesia, seperti alam lokal yang ada di Subayang ini” ujar Abdurrahman.

Keadaan alam yang masih asri dari Hutan Bukit Rimbang Bukit Baling yang terdapat di Kampar Kiri Hulu ini harus tetap dijaga dengan harapan agar generasi ke depannya bisa merasakan keindahan alam ini. Kerusakan alam itu disebabkan oleh ulah manusia karena adanya perasaan serakah. Maka tidak heran bila Rasulullah SAW paling mewanti-wanti umatnya untuk tidak serakah karena dapat mengancam kehidupan kita.

Kegiatan yang berlangsung dua hari ini diselingi dengan penyangan video mengenai pentingnya sungai bagi kehidupan. Kemudian berlanjut kepada penekanan Fatwa MUI dengan mengulasnya satu per satu dan tanya jawab. Antusiasme para Da’i begitu besar, hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang tersampaikan.

Selain bertujuan menjalin silaturahmi, dalam acara ini juga dibentuk Forum Komunikasi Da’i Konservasi (For Ko Das) Antau Singingi, Antau Subayang, Antau Bio. Pembentukan ini berawal dari inisiasi para dai untuk dapat saling mempererat komunikasi di antara para Dai di wilayah Rimbang Baling khususnya Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar dan Kecamatan Singingi Hilir, Kuantan Singingi. Tidak perlu lama, dengan semangat yang tinggi untuk memberikan wadah bagi parai Dai ini, struktur forum komunikasi tersebut pun tersusun. Terpilih,Ahmad Sodik, Dai asal Desa Tanjung Belit, Kampar Kiri Hulu sebagai ketua forum.

Ahmad Sodik, salah satu guru agama yang juga sebagi Dai di Tanjung Belit dipilih selaku ketua forum.

‘’Mudah-mudahan dengan dibentuknya forum komunikasi ini membuat pergerakan atau semangat para Da’i semakin kuat. Sebagai Da’i kami bisa memberikan ilmu agar masyarakat mengerjakan yang baik dan meninggalkan keburukan. Sehingga mampu membuat masyarakat sadar akan kelestarian alam” tutup Ahmad.

“Kami sangat senang, kolaborasi dengan WWF memberikan gerakan berarti di lapangan, dan diharapkan dapat segera mengubah persepsi dan perilaku masyarakat terhadap hidupan liar dan kekayaan alam di Rimbang Baling, khususnya.” kata Dr Fachruddin Mangunjaya, dari PPI UNAS. ***

Berita Terkait: