Pendekatan Keagamaan Tingkatkan Kepedulian

Pendekatan keagamaan dinilai efektif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. Pendekatan yang sedang dilakukan Badan Restorasi Gambut dalam dua tahun terakhir ini akan ditingkatkan tidak hanya pada ranah dakwah lisan, tetapi juga memperbanyak praktik di lapangan yang bisa dicontoh masyarakat.

Hal ini disampaikan Kepala Kelompok Kerja Edukasi dan Sosialisasi Badan Restorasi Gambut (BRG), Suwignya Utama dalam diskusi virtual Dakwah Sejuk di Lahan Gambut yang berlangsung pada Jum’at (24/4/2020).

“Pendekatan keagamaan dilatarbelakangi hasil riset yang menunjukkan berbagai kerusakan lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan lahan, memiliki akar masalah pada perilaku manusia.

Rekaman Dialog:

Oleh karena itu, penanggulangan masalah dalam pengelolaan sumber daya alam khususnya di lahan gambut perlu diperkuat pendekatan moral keagamaan, yaitu menyentuh aspek terdalam hati manusia yaitu value (nilai) dan belief (keyakinan),” ungkap Suwignya.

Sejak 2018, Badan Restorasi Gambut telah melatih 257 dai peduli gambut dan 104 pendeta peduli gambut di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Mereka berasal dari desa-desa peduli gambut yang didampingi BRG dan mitranya yang jumlahnya per akhir tahun 2019 mencapai 394 desa.

BRG

Dalam diskusi ini, Ketua Pusat Pengajian Islam Fakhruddin Mangunjaya, menyampaikan hasil evaluasi melalui survei pada empat desa yang memiliki dai peduli gambut di Kalimantan Barat dan Riau. Hasil survei itu menunjukkan 62,1 persen responden menyatakan dai sering berdakwah terkait gambut dan 32,1 persen responden menyatakan dai selalu berdakwah terkait gambut.

Terkait fatwa haram pembakaran lahan, sejumlah 56,3 persen responden menyatakan, dai sering berdakwah dan 29,6 persen dai selalu berdakwah terkait hal tersebut. ”Artinya informasi dan dakwah sudah sampai kepada masyarakat,” ujarnya.

Namun, saat ditanya lebih lanjut, sebagian masyarakat mengaku masih mempraktikkan pembukaan lahan dengan cara membakar. Dengan kata lain,  dakwah saja tidak bisa langsung menyadarkan masyarakat tanpa dibarengi dengan alternatif atau solusi.

Meski demikian, kehadiran dai peduli gambut ini menjadikan masyarakat memahami arti penting lahan gambut. Pengetahuan itu terkait, antara lain, dampak pembakaran terhadap kesehatan masyarakat dan perubahan iklim.

Sumber Artikel : Kompas.id

BERITA TERKAIT: