PUASA DAN PEREMPUAN

Web_KajianRamadan

Keterbatasan biologis bukan penghalang bagi perempuan untuk meraih pahala puasa di bulan Ramadan. Salah satu caranya dengan mempelajari tafsir Al-Qur’an  yang ditulis para ulama untuk memudahkan memahami makna ayat-ayat di dalam Al-Qur’an.

Jakarta (PPI-UNAS). Keterbatasan biologis seperti menstruasi, hamil dan menyusui sering kali menjadi penghalang bagi kaum perempuan untuk menyempurnakan ibadah puasa ataupun ibadah lainnya di bulan Ramadan.

Padahal, puasa adalah ibadah yang sangat khusus yang diperuntukkan hanya untuk Allah SWT semata, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist Qudsi, “Semua amal perbuatan anak Adam -yakni manusia- itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya.”

Lihat rekaman LIVE disini

Di bulan Ramadan Allah SWT juga memberikan ampunan, membuka pintu-pintu keberkahan dan melipatgandakan berbagai pahala atas ibadah yang dijalankan seperti sholat taraweh dan i’tikaf di masjid untuk mencapai kemuliaan malam Lailatul Qadr.

Meski seorang perempuan muslim yang tengah mengalami hambatan biologis, namun dia tetap  bisa meraih pahala puasa Ramadan melalui berbagai amalan dan perbuatan seperti yang  dicontohkan oleh Rasulullah dan para keluarganya.

Puasa dan Perempuan menjadi tema yang diangkat dalam Kajian Ramadan PPI-UNAS edisi terakhir Ramadan 1442 H dengan menghadirkan Dr. Asmawati binti Muhamad dari Universiti Malaya, Malaysia yang berlangsung pada Jum’at pagi (07/05/2021), didampingi moderator Yesi Maryam.

Puasa1

Ramadan adalah bulan yang selalu dinantikan oleh orang-orang yang beriman. Untuk meraih keberkahan bulan tersebut, setiap orang beriman baik laki-laki maupu  perempuan akan berusaha dengan sungguh-sunguh menjalankan berbagai ibadah serta meninggalkan perilaku yang tidak membawa manfaat. Namun terkadang, perempuan mempunyai hambatan biologis dan tidak melakukan sejumlah ibadah seperti berpuasa, sholat wajib dan sholat tarawih ataupun beriktikaf di masjid.

Meski demikian, kata Dr. Asma, demikian dia biasa disapa, ada banyak amalan yang bisa dilakukan dan telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah beserta keluarganya. Salah satu adalah dengan melakukan tadabur Al-Qur’an

“Perempuan yang sedang berhalang tetap diperbolehkan untuk melakukan tadabur Al-Qur’an baik melalui majelis-majelis ilmu, ataupun membaca berbagai tafsir dan terjemahan Al-Qur’an yang ditulis para ulama” ujar perempuan yang meraih gelar Ph.D untuk bidang Qur’an dan Sunnah dari International Islamic University Malaya di tahun 2014.

Menurutnya, kaum umat Isla di Indonesia bersyukur dan bangga karena di  negeri tersedia berbagai jenis tafsir yang telah ditulis para ulama. Salah satunya adalah tafsir yang ditulis oleh Buya Hamka. Tafsir Hamka, katanya adalah salah satu yang terbaik, karena ditulis  dengan bahasa yang sederhana sehingga memudahkan umat Islam untuk membaca dan memahaminya makma isi di dalam Al-Qur;an dengan baik.

Selain itu, katanya, kaum perempuan yang tengah berhalangan, juga dapat mengikuti berbagai perilaku dan sikap yang ditunjukkan oleh perilaku istri nabi, yaitu Aisyah RA. Beliau adalah perempuan yang senantiasa mengikuti pelajaran yang disampaikan Rasulullah dalam majelisnya. Pada bulan Ramadan malaikat Jilbril datang untuk menurunkan wahyu kepada Rasulullah, dan Aisyah selalu membaca Al-Qur’an dengan mengulang-ulang ayat-ayat yang telah diturunkan.

Dia juga dikenal teliti dalam mempelajari setiap perkataan dan perbuatan baginda Rasulullah.  Banyak dari hadist yang diriwayatkan Aisyah, dan sebagian merupakan hadist yang  terkait dengan urusan perempuan, seperti masalah haid, kebersihan diri ataupun hubungan antara suami istri. Hadist semacam ini hanya mungkin diriwayatkan oleh Aisyah dan bukan oleh sahabat yang lain karena posisinya sebagai istri Rasulullah yang belia dan kecerdasan berpikir dalam mempelajari ilmu agama.

Dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di bulan Ramadan, Aisyah selalu bersedekah ke tetangga atau orang-orang membutuhkan. Dia hidup secara sederhana dan seadanya. Seperti yang dijelaskan oleh salah Urwah bin Zubair, salah satu keponakannya, terkadang berbulan-bulan Aisyah tidak memasak karena tidak memiliki bahan makanan. Namun jika dia memiliki uang seluruhnya disedekahkan dan  dia mencukupkan 3 buah kurma dan air putih untuk berbuka puasa.

Aisyah juga membuka majelis ilmu untuk menyebarkan ilmu agama. Dia adalah tempat bagi para sahabat dan umat Islam untuk bertanya ataupun meminta pendapat, sehingga mendapat julukan sebagai  Ummul Mukminin atau ibu dari orang-orang yang beriman.

Perilakunya ini yang menjadi bekalnya menjadi perempuan yang beriman dan mendapatkan tempat yang terpuji di sisi Allah SWT.

Menutup kajian, Dr. Asmawati mengajak umat Islam, khususnya kaum perempuan untuk bisa meneladadi perilaku perempuan beriman seperti Aisyah.

Menurutnya, di masa modern saat ini justru perilaku yang Islami seperti yang dilakukan oleh Aisyah, seperti kebiasaan membaca, mempelajari ilmu agama dan pengetahuan, bersedekah dan membuka majelis ilmu sangat penting untuk diterapkan dan mudah.

Kebiasaan ini tidak hanya membawa kebaikan kepada diri sendiri, tetapi juga kepada orang lain. Dengan kebiasan konsumsi yang seperlunya, tidak berlebih-lebihan akan mengurangi emisi gas rumah kaca dan jejak karbon, masyarakat juga hidup dalam rasa keadilaan dan tidak kekurangan karena ada tetangganya selalu bersedekah dengan membagikan makanan, pakaian dan keperluan lainnya, meskipun barang tersebut kecil atau sudah pernah dipakai terpakai.

“Dan yang lebih terpenting juga adalah senantiasa mengikuti majelis keilmuan. Karena tidak ada yang bisa menghalangi laki-laki dan perempuan dalam menuntut ilmu dan menyebarluaskannya, “ujarnya. (ym)

Berita terkait: