PUASA UNTUK MENGHIDUPKAN POTENSI ASMAUL HUSNA

sulaiman

Jakarta (PPI-UNAS) Asmaul Husna atau nama yang menjelaskan tentang sifat Allah SWT merupakan potensi besar yang ada di setiap diri manusia. Potensi ini dapat dikembangkan sehingga manusia tersebut dapat tumbuh dan hidup menjadi insan kamil. Manusia yang sempurna baik secara wujud, sifat dan spiritualnya.

Hal ini disampaikan oleh Sulaiman Al-Kumayi dalam Kajian Ramadhan PPI-UNAS yang membahas tentang Puasa dan Potensi untuk Menghidupkan Asmaul Husna, Jum’at (16/4).

Di dalam surat Shaad ayat 72, bahwa Allah telah menegaskan bahwa Dia telah menyempurnakan setiap kejadiannya, termasuk kejadian dalam penciptaan manusia, dan dari penciptaan tersebut, Dia meniupkan ruh-Nya.

Sulaiman menjelaskan, untuk mengembangkan potensi Asmaul Husna ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Yang Pertama, dengan mensucikan diri dan hati, sebab Allah adalah zat yang maha suci dan bersih. Yang kedua dengan melakukan positif imaging atau menerapkan sifat-sifat tersebut.

“Jika kita ingin memiliki sifat Ar-rahman (Yang Maha Pengasih), selain diucapkan, sifat ini juga harus dipraktekkan kepada diri sendiri dan orang lain, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.”ujar Sulaiman.

Cara berikutnya adalah bertafakur dan mengingat kembali betapa besar kasih sayang Allah kepada kita semua. Dan yang terakhir adalah bermeditasi tentang sifat-sifat Allah tersebut.

Ke-99 sifat Allah tersebut, kata Sulaiman, selain dihafalkan juga perlu dipahami, diresapi dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kita bisa mendapatkan kesempurnaan dari sifat Allah tersebut.

Seluruh sifat tersebut juga saling berpasangan, seperti Ar-Rahman dengan Ar-Rahim, Al-Malik dengan Al-Qudus, demikian seterusnya. Kecuali As-Shabuur (Yang Maha Sabar). Ini artinya setelah kita memahami 98 sifat Allah, maka barulah kita mendapatkan sifat yang ke 99 menjadi orang yang sabar.

“Jadi tidak bisa, kita hanya ingin mengembangkan potensi Al-Malik, tapi tidak mau memiliki sifat Al-Qudus. Itu seperti Firaun, yang ingin mengusai dan menjadi  raja namun tidak mau mensucikan diri.” ujarnya.

Sulaiman sendiri setelah menjalani proses untuk mengembangkan potensi Asmaul Husna ini, yang kemudian dia tuliskan dalam sebuah buku berjudul “ Kecerdasan berdasarkan Almaul Husna”. Buku ini telah diterbikan di Indonesia dan Malaysia.

Bulan suci Ramadhan ini, ujar Sulaiman, bulan yang sangat tepat untuk mengembangkan potensi Asmaul Husna. Selain dapat untuk mengembangkan potensi di dalam diri, kita juga perlu membagikan pengalaman ini kepada orang lain, memberikan motivasi sehingga orang bisa semakin merasakan bahwa kehidupan di dunia mempunyai makna yang besar dengan segala kebaikannya.

“Dengan potensi Asmaul Husna, dapat digunakan untuk membangkitkan jiwa-jiwa yang telah usang untuk bangkit dan semangat kembali,” ujar lelaki kelahiran kota Kumai, Kalimantan Tengah yang juga dosen di UIN Walisongo, Semarang.

Berita terkait: